adsense

Thursday, 8 January 2015

Kulit Manggis bisa menunda Menopause dengan cepat


      Tidak semua orang  menghadapi tahun baru dengan senyuman karena jika menghitung  penghasilan dan perubahan hidup apa yang telah terjadi setiap orang berbeda dan sangat  relatif sekali. Jika trending topics yang bisa kulihat di lingkunganku terjadi ada beberapa pemutusan hubungan kerja dari pihak karyawan karena merasa penghasilannya tidak memadai untuk hidup, sekelompok karyawan yang merasa  ada perubahan baru di dunia kerja merasa belum siap menghadapi kondisi revolusi baru di dunia kerja tentu sangat menguras  dan melibatkan emosi besar atau ada sebagian  para jomblo-jomblo yang sulit menemukan pasangannya. Jika hal ini disinggungkan pasti merupakan hal yang sangat sensitif sekali bagi orang yang bersangkutan. Para pelakar boleh saja mentertawai kegagalan orang lain dan mengolok-ngolok tentang kehidupan orang  di belakang layar tetapi hanya manusia yang bersyukurlah melihat fenomena tersebut  akan menjadi keimanannya karena diberikan  nasib lebih beruntung  dari orang lain.
Lihat blog
      Sore itu juga aku bergegas ke tempat teman  membawa segudang semua permasalahan  hidup yang aku alami. Aku harap kembang api di atas langit yang biru dapat menghipnotis pikiranku dan mengubah mimpi dan nasibku pada tahun baru ini nanti. Kulihat wajah Eni muram ada guratan kelelahan di sana. Matanya berkaca-kaca dan akhirnya dia menumpahkan semua unek-unek perasaannya. 
      “Aku ingin bercerai!” kata Eni tanpa ekspresi di wajahnya.
.     “Apa masalahnya?” tanyaku penasaran.
     “Sudah tiga hari ini Riskan tidak memberi uang padaku dan kerjanya hanya marah, padahal biasanya tahun baru  jualan esnya laris!. Kok, cuma beri uang dua puluh lima ribu sehari, cukup apa duet seperti itu!” cerita Eni menggerutuk. Jika kuhitung kebutuhan rumah  tangganya memang besar juga walaupun dalam kondisi ekonomi serba kekurangan. Biaya dapur, belanja anak dan uang rokok suami, belum lagi biaya tidak terduga lainnya terang tidak cukup pikirku dalam hati.
    “Aku menuntut dan protes diberi uang sedikit hingga setiap hari sering terjadi pertengkaran dan  Riskan tidak segan-segan mengucap kata kasar dan  melempar barang-barang disekitarnya dan memukul anaknya yang masih kecil untuk menjadi sasaran kemarahannya.
   “Pergilah kamu dari rumah  ini!”, hardik Riskan cerita Eni kalut. Riskan sudah pernah tiga kali mengucapkan kata-kata itu rasanya aku tidak sanggup dan ingin minta bercerai saja dengannya sekarang ini.
    “Lelaki itu memang egois Eni, jika perkataan kita merendahkan martabatnya dia bisa juga memperlakukan kita serendah mungkin ujarku menjelaskan.
    Zaman orang tua kita dulu sangat sedikit perceraian terjadi karena mereka menganggap manusia harus hidup sesuai dengan kodratnya. Walau diperlakukan semena-mena oleh lelaki para isteri masih tetap mempertahankan kehidupan rumah tangganya. Di era modern ini perceraian  bukan hal yang asing di mata masyarakat. KDRT atau kekerasan dalam rumah  tangga  menjadi pemicu pertengkaran, bagi wanita yang bisa berdikari mereka berani  ambil langkah yang paling berani dalam kehidupan rumah- tangganya.
   “Aku sudah 1 tahun tidak menstruasi dan telah hampir tiga bulan pisah ranjang dan tidak campur dengan suamiku” jelas Eni sambil memegang perutnya yang terasa berat dan sakit. Jadi permasalahan Eni sedang menghadapi dua dilema  menopause dan kegoncangan perekonomian, pantas saja tingkahnya menjadi sangat ekstrim sekali. Wanita itu memang aneh, keinginannya memang tidak bisa diketahui. Saat menjelang menstruasi hormonnya  bisa mempengaruhi emosinya. Jangan heran jika melihat seorang perempuan sering ngomel  dan tidak mampu mengendalikan diri. Di dunia kerja tidak sedikit menghadapi wanita berperangai seperti ini menjelang menopause dan saat tiba menstruasi tentu menimbulkan ketidaknyamanan dalam lingkungan kita. Tetapi tidak semua wanita sama ya, setuju?
    Jika wanita dipengaruhi oleh hormon, lelaki pun bisa berubah kondisi  jika penghargaan sosial dalam kehidupan dan pekerjaan sedang jatuh dan terganggu  seperti  proyek gagal, proposal dan tender ditolak,  PHK dan tidak mampu mencari uang lebih banyak. Jangan heran jika suami atau teman kerja anda tensi dan emosinya sering tinggi yang pelampiasan emosinya pada orang disekitarnya.
   “Aku pikir perceraian harus aku lakukan karena penghasilannya bisa saja dia beri dengan janda-janda gatal di luar sana karena aku sudah lama tidak melayaninya lagi!, aku sering memeriksa uang di dompetnya penuh,  tiba-tiba bisa habis, dikemanakan?” tanya Eni curiga melihat kelakuan suaminya beberapa hari ini. Mereka baru mempunyai seorang anak yang masih bersekolah di Sekolah Dasar kelas 3. Mereka saling bertemu dalam kondisi duda dan janda.  Eni mempunyai  dua anak yang tua hidup dengan mantan suaminya di Jawa dan seorang anak perempuan dititip dengan temannya karena dia merasa belum mampu menghidupi anaknya saat itu. Dalam keluarga Eni perceraian bukan hal yang asing karena semua saudara perempuannya mengalami kegagalan dalam berumah  tangga. Apa mungkin karena Eni keturunan Sunda karena di sana wanitanya molek-molek dan perkawinan dini sering terjadi dan akan memicu  angka perceraian.
     Ketakutan kondisi sosial  ekonomi yang jelek inilah menjadi pandangan baru banyak anak muda yang sulit mencari pasangan hidup sekarang ini. Pelecehan sosial dalam kehidupan berumah tangga dan  tingkah  semena-mena pasangan  atau mertua  menjadi momok dari beberapa orang. Mereka menganggap ekonomi mapanlah yang baru bisa membangun sebuah mahligai perkawinan yang suci. Kebanyakan wanita dari latar keluarga yang harmonis  dan mandiri menganggap kemiskinan dan perceraian merupakan hal tabu yang harus dihindari membuat mereka takut menghadapi kehidupan sehingga mereka cukup nyaman walaupun masih tetap sendiri sambil menunggu orang yang benar pas dan sesuai untuk membina rumah tangga mereka nanti. Persamaan tujuan dan impian hidup juga menjadi faktor penentu orang memilih pasangan karena perbedaan pandangan, hobby dan kebiasaan juga sering menentu kecocokan atau tidaknya seseorang yang mempunyai mimpi untuk membina rumah tangga yang menjadi impiannya.
    Wanita orde dulu memang tidak neko-neko, mereka menerima hidup sesuai dengan kodratnya, sehingga mereka menganggap perjodohan bisa dilakukan walau tidak mencintai lelaki tersebut. Perubahan sosial pun telah merubah citra seorang wanita, mengejar aktualisasi diri ‘karir dan cita-cita’ membuat wanita berani melawan kodrat takdirnya. Banyak wanita mencari kerja dan studi  akhirnya terpisah dengan suami dan anaknya demi aktualisasi diri ingin merubah  nasib dan prilaku sosial yang jelek yang diterima terhadapnya. Tidak sedikit perselingkuhan sering terjadi diantara dua pihak dan berakhir  dengan perceraian. Potret kehidupan wanita menurut zaman  memang banyak merubah perubahan sosial seorang wanita dalam hidupnya.
   “Eni jika kamu tidak ingin perceraian itu terjadi, kamu harus sabar menghadapi perangai  suamimu!” aku mencoba menengahi permasalahan yang sedang dihadapi Eni. Kalo dulu wanita rela suaminya banyak isteri dan kehidupan mereka langgeng-langgeng saja karena wanita tidak bisa mencari uang. Di zaman sekarang wanita banyak menolak dimadu apalagi mampu mencari uang sendiri dan akhirnya para lelaki banyak yang jajan tanpa sepengetahuan sang isteri. Tetapi di kota besar banyak wanita yang menjadi isteri simpanan perkawinan tanpa status. Mereka enjoy-enjoy saja!. Kebanyakan wanita yang diperlakukan seperti ini karena dijerat masalah hidup dan kebanyakan pemuda belum banyak mandiri sementara suami oranglah yang menjadi incaran dan idola mereka karena dari segi prilaku dan ekonomi mereka sudah dianggap mapan. Tidak heran hal seperti ini pemandangan yang biasa di kota besar.    
   “Kodrat wanita itu memang dibawah ya Eni?, kalo lelaki marah jangan ikut marah juga walau diperlakukan seenaknya kalo ingin mempertahankan sebuah perkawinan yang suci!” ulangku meyakininya.
   “Pura-pura saja kamu merasa kejadian kemarin tidak pernah terjadi, pasang wajah manis, wanita memang takdirnya harus pandai merayu agar lelaki mau memberikan uang sakunya pada sang isteri” nasehatku lagi.
    Kami makan siang bersama keluarga Eni, Eni pun menunjukkan buah manggis yang sudah dikeringkannya satu minggu yang lalu kepadaku.
    “Mau minum air manggis kering ini?” pinta Eni. Aku pun tidak menolaknya karena aku tahu buah  manggis adalah ratu dari segala buah di dunia tropis ini. Terang saja aku menghabiskan minumanku secangkir penuh yang disuguhi oleh Eni dengan senang hati.
      Melihat buah manggis itu akhirnya aku cerita panjang lebar tentang menopause karena banyak saudaraku yang akhirnya tertunda menopause karena meminum beberapa produk kesehatan yang telah aku ceritakan pada Eni. Memang harganya cukup  mahal  apalagi jika kondisi keuangan Eni hanya  cukup  untuk  makan dan minum saja dalam kehidupan sehari-hari, mana mungkin dia mampu membelinya!. Jika kondisi menopause itu datang hormon kewanitaan akan berakhir  sehingga kondisi fisik tidak dapat dielakkan seperti akan banyak timbulnya keriput di wajah dan rambut akan banyak tumbuh uban dan proses reproduksi pun akan terhenti paparku lagi.
     Menjelang magrib aku pamit, Eni pun masih tetap menahanku agar aku tidur di rumahnya. Masih banyak urusanku yang belum aku kerjakan. Silahturahmi memang bisa membuat orang panjang umur. Melihat permasalahan, problema orang lain bisa menjadi penguat kestabilan mental kita yang rapuh. Itulah kenapa orang – orang yang pekerja sosial hidupnya selalu tenang dan damai karena mereka tidak egois memperhatikan keegoan hidupnya. Selama keakuan masih bersarang dalam diri,  kita tidak akan pernah  tenang karena selalu membanding-bandingkan dan melihat ke atas atas keberuntungan nasib orang lain dibandingkan dengan diri kita.  Melihat permasalahan orang lain dan membantunya ada cara jitu untuk terlalu memfocus diri sendiri dan sedikit mampu  menghilangkan semua beban hidup  yang banyak dan besar yang tak pernah  selesai dan penuh dengan misteri hidup ini!.
     “Aku akan mendengar nasehatmu dan akan mencobanya!” ujar Eni
     “Jangan lupa di minum air manggisnya, itu buah mujarab loh agar menstruasinya kembali lagi!” nasehatku asal-asalan bak orang ahli herbalis. Penelitian  tentang buah  manggis terhadap menopause memang belum terdengar. Kadangkala penemuan bisa tercetus pada siapa saja  bukan dikalangan akademisi, bisa jadi permasalahan dan fenomena hidup bisa menemukan teori  atau penemuan baru dalam kehidupan yang tidak diduga-duga. Tapi tidak semua orang mampu mempublikasikannya dan berbagi  ilmu kepada orang lain.
    "Pengalaman hidup ini sengaja saya muat dan ceritakan agar dapat dibaca oleh wanita di seluruh dunia. Siapa tahu banyak wanita yang tidak mengenal proses apa yang sedang terjadi dalam dirinya dan wanita setengah baya dalam mengarungi kehidupannya. Saya merasa wajib berbagi cerita, ilmu dan pengalaman siapa tahu  dalam tulisan ini dapat bermanfaat untuk orang lain.
    Keesokan harinya aku coba menghubungi Eni lagi, batinku merasakan bahwa Eni dalam keadaan baik-baik saja. Setelah kutanya kabarnya nampak sekali dari nada suaranya tidak ada lagi kegalauan dan emosional dalam dirinya.
     “Kemarin aku  mens, padahal sudah 1 tahun ini kosong!” cerita Eni girang. Aku tidak tahu kenapa perceraian di ambang pintu dalam keluarga Eni menjadi tidak ada cerita lagi dalam satu malam saja. Apa nasehatku yang seperti psikolog itu atau resep manggis ini yang membuat Eni percaya diri lagi sebagai wanita sejati dihadapan suaminya. Karena malam tahun baru itu aku dengar Riskan hampir mau menjual rumahnya dengan harga yang sangat murah. Keluarganya sudah bersepakat tidak ambil peduli dalam urusan rumah tangga adiknya karena mereka memberikan kemerdekaan terhadap kehidupan  perkawinan mereka jalani jika perkawinan memang tidak bisa diselamatkan itu pilihan hidup yang tidak bisa diganggu gugat ucap saudaranya.
       "Memang kondisi siklus  menstruasi dulu bagaimana?” tanyaku lagi penasaran
      “Kalo dulu hanya beberapa hari tetapi sekarang kok bisa lebih lama?!” jawab Eni keheranan apa yang telah terjadi pada dirinya
     “Ayuk Eni  minum kapsul manggis juga yang semula tinggal beberapa tetes saja menstruasinya sekarang menjadi lebih deras” cerita Eni yang mungkin telah menceritakan panjang lebar kepada keluarganya yang lain. Aku juga jadi ingat saudara sepupuku kalo bertemu sering aku menjajakan produk kesehatan untuknya dan menceritakan khasiat macam-macam obat kepadanya juga mengalami hal sama. Tiga informan ini aku merasa sudah cukup yakin  atas khasiat dan keunggulan dari sebuah produk kesehatan wanita dari buah tropis ini, sembari mencari informasi dan testimoni dari wanita  setengah baya lainnya bahwa kulit manggis benar dapat menunda masa menopuase seorang wanita. Untuk melihat manfaat dan keunggulan dari kulit manggis dapat anda cari informasi lain di buku-buku atau internet.  
   

ARTIKEL TERKAIT
Makanan penunda menopause
 






Kirim pesan Anda

Name

Email *

Message *