adsense

Thursday, 20 March 2014

Akhlak pemimpin seorang Islam menurut Imam al-Gazali

(Mutiara Nasihat untuk Para Raja)


Kepala keluarga adalah seorang ayah yang memimpin biduk rumah tangga dan membimbing isteri dan
anaknya agar menjadi seorang manusia yang baik. Selain mendidik dia juga mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani agar semua dapat terpenuhi. Jadi setiap orang adalah pemimpin, walau dalam lingkup yang kecil

Pemimpin adalah orang yang dipilih oleh rakyatnya sehingga dia yang dianggap sebagai kepala yang memimpin anak buahnya sudah sepatutnya memberi contoh, tauladan dan mampu memotivasi dan mendorong agar anak buahnya untuk bekerja menjadi lebih baik

Sebuah organisasi adalah sebagian dari sebuah sistem. Sebuah sistem yang baik akan memperoleh dan menghasilkan kerja yang baik. Orang-orang yang berada di dalam sebuah sistem, tanpa sistem yang bagus maka akan merusak keberadaannya. Keberadaan sebuah sistem akan hancur karena orang yang menjalankannya tidak sesuai dengan aturan. Dalam agama Islam pun dijelaskan bagaimana menjalankan keadilan dalam memimpin

Rasulullah Saw : Orang yang paling dicintai oleh Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat tempatnya denganku adalah pemimpin yang adil, sedangkan yang paling dibenci oleh Allah pada Hari Kiamat dan paling berat azabnya ialah pemimpin yang zalim (Sunan al-Baihaqi al-Kubra dan Musnad Ibn al-Mubarak)

10 Prinsip dalam menjalankan keadilan menurut Imam al-Gazali di dalam kitab al-Tibr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk:

Prinsip pertama: terlebih dahulu mengenali kadar dan batas-batas kekuasaan serta memahami bahayanya. Sebab, kekuasaan adalah salah satu nikmat dari Allah swt. Orang yang menjalankannya sesuai dengan ketentuan akan menerima puncak kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang menjalankannya tidak sesuai dengan ketentuan akan menerima kesengsaraan yang hanya bisa ditandingi oleh kesengsaraan akibat kafir kepada Allah swt. 

Prinsip kedua: Hendaknya pemimpin/penguasa senantiasa rindu untuk bertemu dengan para ulama dan mendengarkan nasihat mereka. Namun, hendaknya berhati-hati terhadap ulama al-su’ (ulama busuk) yang tamak terhadap dunia. Sebab mereka itu pandai memuji dan memperdaya kamu serta membuat kamu senang hanya karena tamak terhadap hal-hal haram yang ada pada kamu

Umar bin Abdil Aziz pernah meminta kepada Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi untuk menjelaskan keadilan. Al-Qurazhi menjawab, “Jadilah anak bagi orang yang lebih tua daripada kamu; jadilah ayah bagi orang yang lebih muda daripada kamu; dan jadilah saudara bagi orang yang sebaya dengan kamu. Selain itu, hukumlah setiap orang bersalah setimpal dengan kesalahannya; dan hindarilah mencambuk orang muslim atas dasar kedengkianmu kepadanya, karena hal itu akan menyeretmu ke dalam neraka.

Umar bin Abdul Aziz didatangi seorang zahid (orang yang zuhud). Umar berkata, “Nasihatilah aku.” Si zahid berkata, “Wahai amirul mukminin, aku telah mengadakan perjalanan ke negeri Cina. Kaisar Cinta telah buta dan tuli. Pada suatu hari ia menangis seraya berkata, “Demi Tuhan, aku tidak menangis karena kehilangan pendengaranku. Aku menangis tidak lain karena seseorang yang dizalimi berdiri di depan pintuku untuk meminta tolong dan aku tidak mendengar permintaannya. Tapi aku bersyukur pada Tuhan karena mata hatiku masih sehat. Lalu dia menyuruh bawahannya menyampaikan pengumuman, ‘Ketahuilah, setiap orang yang merasa diperlakukan zalim hendaknya mengenakan baju merah.’ Kemudian dia mengendarai gajah; lalu siapa yang terlihat mengenakan baju merah dipanggil untuk didengar pengaduannya, kemudian dia memberinya keadilan terhadap lawan sengketanya. Wahai amirul mukminin, lihatlah bagaimana orang kafir itu memberikan kasih sayangnya kepada hamba-hamba Allah, sedangkan engkau seorang mukmin dari Ahlul Bait Nabi; maka lihatlah bagimana kasih-sayangmu terhadap rakyatmu.”

Prinsip ketiga: hendaknya kamu wahai pemimpin/penguasa tidak puas hanya dengan menghindarkan dirimu dari berbuat zalim. Akan tetapi, hendaknya kamu mendidik para pembantu, teman, pegawai, dan wakilmu agar tidak berbuat zalim. Sebab kamu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah tentang perbuatan zalim mereka sebagaimana kamu sendiri akan dimintai pertanggungjawaban tentang perbuatan zalim dirimu sendiri.

Pemimpin yang ingin menegakkan keadilan pada rakyatnya hendaknya mendidik para pembantu dan pegawainya untuk berlaku adil, serta mengawasi kondisi para aparatnya sebagaimana ia mengawasi keluarga, anak-anak, dan rumahnya. Hal itu tidak akan terealisasi kecuali dengan terlebih dahulu menegakkan keadilan dari kondisi batinya, yaitu dengan menjaga agar jangan sampai syahwat dan amarahnya menguasai akal dan agamanya; dan jangan sampai akal dan agamanya menjadi tawanan syahwat dan amarahnya; malah sebaliknya, hendaknya ia membuat syahwat dan amarahnya menjadi tawanan akal dan agamanya

Umar bin Khattab menulis surat kepada pegawainya, Abu Musa al-Asy’ari: Sesungguhnya penguasa yang paling bahagia ialah yang rakyatnya bahagia karenanya; dan sesungguhnya penguasa yang paling sengsara ialah yang rakyatnya menjadi sengsara karenanya. Maka hindarilah bermewah-mewah karena para pegawaimu akan mengikutimu. Sesungguhnya perumpamaanmu seperti hewan yang melihat rumput hijau, lalu memakannya banyak-banyak hingga gemuk, tetapi gemuknya itu sesungguhnya yang menyebabkan kebinasaannya, karena dengan gemuknya itu ia disembelih lalu dimakan.

Prinsip keempat:pada umumnya pemimpin/penguasa itu sombong. Di antara kesombongannya ialah muncul pada dirinya kemarahan yang mendorongnya untuk balas dendam. Kemarahan adalah bahaya, musuh, dan penyakit bagi akal. Jika amarah mulai muncul, maka hendaklah kamu condong kepada tindakan memaafkan dan membiasakan diri dengan kemurahan. Jika hal itu menjadi kebiasaan kamu, maka kamu akan menyerupai para nabi dan para wali; tetapi jika sikap menuruti amarah menjadi kebiasaan kamu, maka kamu akan menyerupai binatang buas dan hewan peliharaan.

Nabi saw bersabda: Ada tiga sifat, jika ketiganya ada pada seseorang, maka sempurnalah imannya, yaitu menahan amarah, bersikap adil di saat suka dan marah, dan memaafkan ketika mampu.

Umar bin Khattab: Jangan kamu cepat menilai akhlak seseorang sebelum kamu mengetahui perilakunya di waktu marah.

:Prinsip Kelima
Dalam setiap kejadian yang kamu hadapi hendaknya kamu bayangkan bahwa dirimu adalah salah seorang dari rakyat dan yang menjadi penguasa adalah orang lain selain kamu. Maka setiap yang kamu tidak sukai bagi dirimu janganlah kamu sukai bagi siapa pun dari kaum muslimin. Jika kamu sukai bagi mereka apa yang tidak kamu sukai bagi dirimu, maka sesungguhnya kamu telah mengkhianati rakyatmu dan menipu warga wilayahmu.

Diceritakan bahwa Rasulullah saw duduk berteduh pada Perang Badar, lalu Jibril as turun menegur beliau, “Hai Muhammad, apakah kamu suka duduk berteduh, sementara para shahabatmu di bawah terik 
matahari?!” Beliau merasa mendapat tamparan pelajaran dengan teguran itu


:Prinsip Keenam
Jangan kamu sepelekan dan biarkan orang-orang berkepentingan menunggu di depan pintumu. Hindarilah bahaya ini. Kapan seseorang di antara kaum muslimin berkepentingan kepadamu, maka janganlah kamu sibuk dengan mengerjakan ibadah nafilah (ibadah tambahan yang hukumnya sunat), sebab memenuhi 
kebutuhan orang-orang muslim itu lebih afdal daripada mengerjakan ibadah nafilah.

Prinsip Ketujuh
Jangan biasakan dirimu sibuk menuruti syahwat seperti mengenakan pakaian mewah dan makan makanan yang enak-enak. Namun, gunakanlah sifat qana’ah dalam segala hal, sebab tidak ada keadilan tanpa qana’ah
Umar bin Khattab ra pernah bertanya kepada orang saleh, “Apakah kamu melihat dari penampilanku sesuatu yang tidak kamu sukai?” Orang saleh menjawab, “Aku mendengar bahwa kamu menaruh di atas meja makanmu dua potong roti, dan bahwa kamu mempunyai dua pakaian, yang satu pakaian malam dan satu lagi pakaian siang.” Umar bertanya, “Ada lagi selain itu?” Orang saleh menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Demi Allah, itu tidak akan pernah terjadi lagi untuk selamanya.”

:Prinsip Kedelapan
Jika mampu berlemah-lembut dan kasih-sayang, maka janganlah kasar dan keras. Nabi saw bersabda, “Setiap penguasa yang tidak berkasih-sayang kepada rakyatnya, maka pada Hari Kiamat Allah tidak akan mengasihi dan menyayanginya.” Nabi saw pernah berdoa, “Ya Allah, lemah-lembutlah kepada setiap penguasa yang lemah-lembut kepada rakyatnya, dan kasarlah kepada setiap penguasa yang kasar kepada rakyatnya.”

Hisyam bin Abdil Malik, salah seorang khalifah Bani Umayyah, pernah bertanya kepada seorang ulama bernama Abu Hazim, “Bagaimana agar selamat dalam urusan kekhalifahan?” Abu Hazim menjawab, “Kamu ambil dirham yang kamu peroleh dengan jalan halal, lalu gunakan pada tempat yang benar.” Hisyam merasa tidak ada orang yang mampu melakukan itu, seraya bertanya, “Siapakah yang mampu melakukannya?” Abu Hazim menjawab, “Yang mampu melakukannya adalah orang yang menginginkan kesenangan surga dan takut akan azab neraka”

Prinsip Kesembilan
Berusahalah agar rakyatmu senang jika kamu mengikuti syarak. Nabi saw. Bersabda kepada para 
shahabatnya, “Sebaik-baik umatku ialah apabila kamu (penguasa) dan rakyatmu saling mencintai; dan seburuk-buruk umatku ialah apabila kamu dan rakyatmu saling membenci dan saling mengutuk.
Penguasa hendaknya tidak terpedaya oleh segala informasi dan pujian yang disampaikan kepadanya. Penguasa jangan merasa yakin bahwa pujian itu tanda rakyatnya menyukainya, sebab orang memujinya hanya karena takut kepadanya. Sebaliknya, penguasa hendaknya mengutus orang-orang kepercayaannya untuk mendengarkan komentar rakyat tentang dirinya, sehingga ia mengetahui aibnya dari orang banyak.”

:Prinsip Kesepuluh
Jangan mencari kesenangan orang dengan menyalahi syarak, sebab marah orang yang menyalahi syarak tidak akan berbahaya
Umar bin Khattab berkata, “Aku adalah orang yang paling adil terhadap orang yang marah. Setiap orang yang haknya diambil sudah semestinya marah. Namun, kebanyakan orang menjadi bodoh dengan meninggalkan haknya hanya untuk membuat orang lain senang. Seseorang tidak mungkin dapat memuaskan dua orang yang bersengketa.”

Mu’awiyah mengirim surat kepada Aisyah ra untuk memintanya nasihat singkat. Aisyah membalas surat dengan menyampaikan sabda Rasulullah saw., “Siapa yang mencari rido Allah Ta’ala, dan karena itu ia mendapat kemarahan orang, niscaya Allah meridoinya dan Allah akan membuat mereka meridoinya. Namun, siapa yang mencari rido manusia, dan karena itu ia mendapat kemurkaan Allah Ta’ala, niscaya Allah akan murka kepadanya dan membuat orang banyak marah kepadanya. Misalnya, tidak menyuruh orang untuk taat kepada Allah, tidak mengajari mereka urusan agama, memberi mereka makanan haram, dan menghalangi buruh mendapat upahnya serta isteri mendapatkan maharnya, niscaya Allah murka kepadanya dan membuat orang banyak marah kepadanya.” 

Disarikan dari artikelnya dosen IAIN Bengkulu, Dr. Hery Noer Aly, M.A

Kirim pesan Anda

Name

Email *

Message *