adsense

Tuesday, 31 December 2013

Makhluk halus 'jin' menyerupai sebagai manusia

        Liburan panjang memang sangat ditunggu-tunggu setiap  mahasiswa yang menuntut ilmu di luar kota . Selain melepas penat  otak menghadap ujian semester, kerinduan akan kampung halaman dan berkumpul dengan keponakan yang lucu-lucu sangat merindukan hati.
      Kereta siang Sindang Marga Palembang –lubuklinggau telah membawaku ke kota kecil tempat kelahiranku.  Cuaca panas dan keramaian orang-orang di pasar dengan menjajakan jualannya, mengingatkan pada ibuku yang hampir setiap hari belanja di pasar ini. Aku selalu menemani ibu belanja dan membantu membawa belanjaannya.
         Setiba di rumah disambut oleh ponakanku yang sedang lucu-lucunya. Zaki baru belajar berjalan, jadi perlu pengawasan yang ketat karena rumahku berada di  pinggir jalan raya. Sangat repot sekali orang tua zaman sekarang, karena anak-anaknya bekerja meniti karir dengan suka hati harus menjadi penjaga dan mengawasi cucu-cucunya yang dilakukannya dengan sangat repot tapi menjadi pelipur laranya.
         Setelah membantu  ibuku memasak dan bersih-bersih rumah, akupun istirahat tidur-tiduran di kamar  depan. Keponakkanku selalu menganggu istirahatku. Kerinduan dan senda gurauku membuat Zaki selalu merengek dan menangis.
          Bangun siang aku duduk di halaman  depan. Kakakku pulang bersama ibuku dari pasar. Aku pun ikut mengambil dan membawa belanjaan dan membawanya ke ruang dapur.  Kok, Marni  pembantuku hanya duduk-duduk aja yach di kursi depan, tak sedikit pun mau menolong?. Dengan rambut panjang terurai menghadap kesamping, dibiarkannya saja orang lalu lalang di depannya.  Tapi saya juga jadi gemas dibuatnya, “mungkin dia sedang sakit?!”, kata hatiku  bijaksana.
          “Marni, tolong donk, jangan melamun aja!”, ujarku ketus. Marni pun tak sedikit pun menolehkan wajahnya. Dicuekin  oleh pembantu tak membuatku kesal, aku pun tetap memberesi  belanjaan sayur mayur di dapur.
             Makan malam pun harus disiapkan, karena sore hari kakak-kakakku pulang dari kantor.   Marni pembantuku baru muncul  ke dapur.  Dengan membawa sesangket keranjang  belanjaan  dia  bernyanyi kecil, pasti habis  ketemuan atau melihat pacarnya.
                “Marni kamu kok sehat-sehat saja, tadi kenapa kamu seperti ayam sakit?” tanyaku heran.
           “Aku ke pasar di suruh ibu, karena ada belanjaan yang kurang” sambil melihat pakaian yang dikenakan Marni, aku balik bertanya.
                “Tadi kamu pakai baju putihkan, kenapa baju yang kamu pakai orange?”, tanyaku heran
                “Mbak, aku tidak pernah punya baju putih, kulitku yang hitam ini akan jadi apa warnanya jika mengenakan  baju berwarna putih” jawabnya ketus.
                “Jadi, yang duduk di kursi berbaju putih, berambut panjang, dan tidak menoleh  hanya melihat ke samping itu, siapa yach? pikirku heran.
                “Benar mbak, tadi aku ke pasar jam 2 siang tadi” jelas Marni dengan yakin
               “Tapi,  siapa  yach    pada   siang hari bolong memunculkan wujudnya seperti manusia?. Padahal banyak yang lalu lalang di depannya, kok hanya saya yang bisa melihat kedatangan wujud makhluk  mengerikan itu? Aku pun, menceritakan kepada saudara-saudaraku, tapi mereka tidak begitu menanggapi karena mereka pun tidak menyaksikannya sendiri, jadi mungkin bukan hal yang seru dan misterius.
                Cerita misteri itu tidak bisa disimpanku sendiri, aku selalu teringat dan menceritakannya kepada saudaraku. Aku pun menjadi merinding sendiri jika teringat kejadian siang itu. Kok, bisa ya siang hari makhluk halus berkeliaran dan menampakkan wujudnya? Bukannya, menurut cerita-cerita hantu, jin, ataupun iblis (aku tak tahu siapa yang harus kunamai wujudnya itu!) hanya sering  muncul  pada malam hari, di tempat-tempat yang  gelap, angker dan kotor?
          Munculnya wujud makhluk halus yang menyerupai manusia, sering aku alami beberapa kali dalam kehidupanku. Aku pun mengetahui kedatangannya yang merubah dirinya menjadi manusia, sebagai temanku, pegawaiku, setelah aku selidiki ternyata dia adalah  wujud makhluk –Nya  yang berseliweran di muka bumi dan berkehidupan  seperti manusia. Hanya kita manusia, tidak diberi Tuhan untuk melihatnya. Tuhan hanya memberikan sedikit saja ilmu untuk hal-hal yang ghaib kepada umat yang diinginkannya.
            Kenapa hanya segelintir saja manusia yang bisa merasakan dan melihat makhluk-Nya yang ghaib di muka bumi ini? apakah karena gen bawaan orang tua, atau ada keturunan dari nenek moyangnya? Anak dan cucu dari nenek moyang yang mempunyai ilmu, biasanya mempunyai keturunan yang sama.
           Menurut penelitian ilmiah di dalam otak manusia ada sebuah  organ yang sangat penting yaitu  kelenjar pineal. Secara anatomis, organ ini sangat kecil. Pada orang dewasa diameternya hanya 1 mm.  Ia berbentuk kerucut dan terletak di pusat otak.
           Kelenjar ini sangat peka terhadap cahaya . Kelenjar pineal ini dapat merasakan adanya cahaya layaknya mata kita. Ia mampu “melihat” dengan jelas ruang-ruang yang ada di luar dunia fisik sehingga kelenjar ini dsebut “mata ketiga”.
               Kelenjar pineal ini mulai berkembang sejak anak berusia 3 bulan dan mencapai puncaknya pada usia 6 tahun. Selenjutnya ia terus menyusut sehingga pada usia dewasa kelenjar pineal ini mengeras dengan diameter yang tinggal 1 mm saja.
              Konon katanya  semakin besar volume organ ini, maka kemampuan  gaib seseorang akan sangat besar. Zaman  dahulu para nenek moyang kita  menghabiskan hidupnya untuk menuntut ilmu kebatinan, kerohanian dengan melakukan bermacam-macam tarekat. Jadi organ kelenjar pinealnya lebih besar dibandingkan  organ pada tubuh otak manusia  sekarang ini, dan mengalami evolusi (penyusutan) pada generasi berikutnya. Organ akan bertahan bentuknya, jika kita selalu melakukan sholat khusuk, sholat malam, berzikir,berpuasa dan melakukan tarekat lainnya, tapi hal ini belum dibuktikan secara  ilmiah karena perlu banyak pembuktian yang lebih sempurna, seperti  melihat volume organ  kelenjar pineal yang dimiliki manusia biasa dengan orang yang dimiliki kelebihan oleh Tuhan.
        Apa itu kelenjar pineal? kita lebih mengenalnya dengan sebutan mata batin. Batin kita sama dengan tubuh kita, yang juga harus dikasih suplemen dan asupan. Tapi bedanya batin kita adalah rohani yang harus diisi dengan cahaya Tuhan. Kalbu kita harus disirami dengan zikir dan sholat yang khusuk agar rohani kita menjadi tenang dan memancarkan cahaya batin keluar. Sepertinya cahaya batin itu lebih bersih dan damai  dipancarkan dari raut wajah kaum muslimin yang sering membaca alquran dan sering melakukan sholat malam dengan khusuk dan selalu membersihkan hatinya.
           Cerita salah seorang tadi telah menjadi pemikiran dan kesimpulan saya.  Kenapa ada orang yang bisa diberikan dan mempunyai kemampuan bisa melihat  dengan kasat mata makhluk  gaib secara nyata. Hati yang bersih, tidak memiliki rasa iri dan dengki, senang melihat orang lain senang, bahagia dan sukses, tidak punya niat ingin mencelakai, mentertawai, menghina, apalagi tersenyum dan tertawa melihat penderitaan orang lain. Karena hati yang kotor akan merusak hati dan ruang batin kita, dan cahaya batinnya akan terbawa dari wajah kita yang selalu cemberut, nyinyir dan judes. Energi yang dipancar pun akan merusak  kenyamanan orang disekitarnya.
          Banyak sekali orang yang rajin sholat dan melakukan rutinitas agamanya dengan baik, tapi sering menggosip, memfitnah, tidak suka melihat orang lain diberi rezeki lebih,  dan hatinya selalu panas jika melihat orang lain senang dan sukses,  dan sering  menghina  dan mentertawai terhadap kekurangan dan kelemahan orang  lain. Semua perangai ini adalah manusiawi, karena tidak setiap manusia ingin memperbaiki  prilakunya dengan baik.  Tingkah  laku  manusia seperti inilah yang merusak hati dan mengotori jiwa kita dan membuat rohani kita menjadi kotor. Karena hati yang bersih seperti kaca yang bersih, yang akan dapat memantul dan melihat  cahayanya dengan jernih,  sehingga cahaya dari Tuhan akan terlihat dari raut wajahnya.
            Orang yang sholeh akan terpancar diwajahnya, cahaya dari hati yang bersih akan terpantul keluar dan akan mengeluarkan aura putih bersih. Hati yang bersih akan dapat menangkap sinyal-sinyal dari dimensi luar tubuhnya, menangkap isyarat alam dan firasat yang sedang terjadi dan akan terjadi. Semakin bersih  rohani dari sifat - sifat sombong,  iri dan dengki dan  sering melakukan pengisian  kalbu dengan zikir dan kegiatan ibadah lainnya, maka rohani kita akan menjadi baik. Hal mustahil  indra ke enam pun akan muncul pada seseorang, seperti firasat, petunjuk atau wangsit.

Kirim pesan Anda

Name

Email *

Message *